Showing posts with label Category-Fiction. Show all posts
Showing posts with label Category-Fiction. Show all posts

[Book Review]: The Book of Tomorrow by Cecelia Ahern

6631792
Book Title: The Book of Tomorrow
Author: Cecelia Ahern
Publisher: HarperCollins Publishers
Available Format: Audiobook, Electronic Book, Paperback
Source: Purchased
Category: Fiction
Year: 2010
Page Count: 320
ISBN: 9780061968310
Price: New package starts from GBP5.34
My rating: 4.0 out of 5.0

Goodreads' Blurb:
This is a story about how tomorrow can change what happens today...

Tamara Goodwin has everything she ever wanted and she never has to think about tomorrow. But suddenly her world is turned upside down and she has to leave her glamorous city life for a new one in the country. However, Tamara is soon lonely and longing to return home.

Then a travelling library arrives in the village, bringing with it a mysterious leather-bound book locked with a gold clasp and padlock. What Tamara discovers within its pages takes her breath away and everything starts to change in the most unexpected of ways...



I can't deny that I picked this book from the local bookstore's shelf mostly for the pretty cover :P And mostly because it's produced by the same author as P.S. I Love You, even though I only watched the movie and was not too in love with it.

This book consists of twenty six chapters which mainly focuses and is written from a sixteen-year-old Tamara Goodwin's point of view, with some chapter at the end by Rosaleen's. It's opened with Tamara contemplating on her father's recent suicide and how it affects her life and her mother's. The condition forces her to leave her comfortable life as a rich girl and moves out to the countryside, Meath, with her mother.

In Meath, they are sheltered in gatehouse owned by Tamara's uncle, Arthur, and his wife, Rosaleen. Tamara has to brace herself, enjoying what has life given to her. Her mother falling into a great shock from her father's death, is not going to be any help for the situation. Apart from the hardship, there she also meets numbers of interesting people like Marcus, Weseley and a nun, Sister Ignatius and discovers a secret written inside a book which she gets from a travelling library: her future.

With a sudden mental upheaval due to her father's untimely death, her mother's catatonic state, Tamara starts her adventures in the little town and soon finds out what it has hidden within for years.


I really like what the author has to offer from this book. The idea of the story is really simple, but Ms. Ahern gloriously builds the plots so that the secret within the book remains undiscovered until the last chapters. The author well describes the mental struggle of a sixteen-year-old girl's from losing a father and how she traps herself from some teenaged mischievousness.

In a few opportunities, the author also applies some wise analogies that the main character uses to contemplate her life. What I really like the most is the one with the 'bluebottles' analogy. I think it perfectly describes what Tamara and her mother have to suffer.

If you are wondering what the book's title really means, then you will find it more suitable starts from the middle section of the story. Though the idea of knowing that your future is already written in a book, might be really interesting, I think the author does not really put that magic inside. The power of the mysterious book just seems a little off.

Readers might want to be more alert on some swearing words in the book. And there are some misspells which I found really annoying as I read it. Eventually rating 4.0 is enough to show that I enjoyed this book.

Below are some of my favorite quotes from the books:

“I make it easier for people to leave by making them hate me a little.”
“All families have their secrets, most people would never know them, but they know there are spaces, gaps where the answers should be, where someone should have sat, where someone used to be. A name that is never uttered, or uttered just once and never again. We all have our secrets.”

“Hope like that, as I thought before, doesn't make you a weak person. It’s hopelessness that makes you weak. Hope makes you stronger, because it brings with it a sense of reason. Not a reason for how or why they were taken from you, but a reason for you to live. Because it’s a maybe. A ‘maybe someday things won’t always be this shit.’ And that ‘maybe’ immediately makes the shittiness better.”
“I wonder if my watching him from the armchair is what it's like to be God, if there is a God. He sits back and sees the big picture, just as I could see that if the bluebottle just moved up a few inches, he'd be free. He wasn't really trapped at all, he was just looking in the wrong place. I wondered if God could see a way out for me and Mum. If I can see the open window for the bluebottle, maybe God can see the tomorrows for me and Mum. That idea brings me comfort. Well, it did, until I left the room and returned a few hours later to see a dead bluebottle on the windowsill. Then to show you where my mind is right now, I started crying...Then I got mad at God because in my head the death of that bluebottle meant Mum and I might never find our way out of this mess. What good is it being so far back you can see everything and yet not do anything to help?
Then I realized this: I had tried to help the bluebottle, but it wouldn't let me. And then I felt sorry for God because i understood how it must be frustrating for him. He offers people a helping hand, but it often gets pushed away. People always want to help themselves first.” 

[Ulasan Buku]: The Girls of Riyadh oleh Rajaa Al Sanea

This post is in Indonesian. If you would like to read it in English, please click here.

Judul Buku: The Girls of Riyadh
Penulis: Rajaa Al Sanea
Penerbit: Ufuk Publishing House
Sumber: Pribadi
Kategori: Fiksi
Tahun: 2005
Penerjemah: Syahid Widi Nugroho
Tebal: 406 halaman
ISBN: 9791238564
Cek buku ini di Goodreads.
Rating pribadi: 3.0 dari 5.0

Deskripsi dari Sampul Buku:
Versi asli buku ini diluncurkan dalam bahasa Arab pada 2005, dan secepatnya dilarang beredar di Saudi Arabia karena isinya yang menghebohkan. Keberanian buku ini berlanjut bak nyala api di seantero pasar gelap Saudi dan menggemparkan hingga ke belahan Timur-Tengah lainnya. Hingga kini, hak terjemahan atas buku ini telah terjual ke lebih dari dua puluh lima negara.

Setiap minggu-setelah salat Jumat-seseorang tak dikenal mengirimkan email bersambung kepada para wanita yang melakukan chatting di sebuah grup online di Saudi Arabia. Terdapat lima puluh email dalam setahun. Isinya menghebohkan, kisah nyata kehidupan empat gadis Riyadh: Qamrah, Michelle, Shedim, dan Lumeis. Terlalu banyak hal yang mengejutkan hingga Anda harus membaca isi buku ini untuk mengetahuinya...



Almarhum Ghazi Al Gosaibi, mantan Menteri Tenaga Kerja Arab Saudi, mengisi prolog untuk buku ini. Beliau menggambarkan bagaimana kisah-kisah yang dibawakan oleh penulis memberi dampak pada berbagai kalangan di negara tersebut. Dalam sekejap, gelombang revolusi pemikiran menyebar, mengundang perdebatan dan spekulasi lebih lanjut terhadap topik sensitif yang diangkat Rajaa Al Sanea ke permukaan masyarakat yang pada saat itu dikenal dengan pemikiran tradisionalnya.

Buku ini ditulis dalam format kumpulan surat elektronik yang dikirim oleh sang penulis ke alamat-alamat e-mail dalam domain Saudi Arabia yang bisa ia temukan. Kisah percintaan empat tokoh utama menjadi pokok bahasan yang disajikan. Mulai dari Qamrah, yang menjadi pertama menuju pelaminan diantara empat sahabat tersebut. Qamrah menikah dengan Rasyid, lelaki yang dijodohkan dengannya oleh kedua orangtua mereka, dengan hanya beberapa kali pertemuan sebelum peresmian ikatan tersebut. Pada awalnya, Qamrah berpikir pernikahan mereka akan baik-baik saja, setelah Rasyid memutuskan untuk memboyongnya pindah ke Amerika Serikat untuk menyelesaikan pendidikan pemuda tersebut. Semuanya berubah setelah mereka menetap di negara tersebut.

Shedim menerima lamaran dari Walid, putra seorang saudagar sukses di Saudi, dan ia jatuh hati kepada pemuda tersebut dalam sekejap. Hubungan mereka berjalan lancar dan tanggal pernikahan pun telah ditentukan. Ini membuat mereka memutuskan untuk membawa hubungan mereka ke tahap yang lebih intim. Tetapi pada suatu hari, Walid memutuskan segala kontak dengan Shedim, mengubah dunianya yang tadinya gemerlap menjadi gelap gulita.

Hidup dalam keluarga multikultur, dimana ayahnya berasal dari Saudi dan ibunya dari Amerika, Michelle terbiasa dengan pemikiran liberalis barat dan seringkali tidak mengerti akan tradisi di Saudi yang ia pandang terlalu mengekang. Ia kemudian bertemu dengan seorang pemuda bernama Faishal dan hubungan mereka pun berlanjut. Faishal yang sangat jatuh hati kepada Michelle pun meminta izin kepada orangtuanya untuk mengajukan lamaran terhadap gadis tersebut. Tetapi kisah cinta mereka menemukan halangan ketika orangtua Faishal tidak menyetujui silsilah keluarga Michelle.

Sementara Lumeis berkenalan dengan Ali, saudara kandung salah satu sahabatnya, Fatimah, dan kakak kelasnya di jurusan kedokteran. Pemuda tersebut membimbing Lumeis dengan bahan-bahan perkuliahan dalam beberapa kesempatan. Hubungan keduanya berlanjut dengan bantuan Fatimah. Saat Lumeis dan Ali berkencan disalah satu kedai, sekelompok polisi syariat mendatangi dan menuduh mereka telah melakukan 'pelanggaran berpacaran'.



Saya membeli buku ini enam tahun lalu dan baru membacanya baru-baru ini. Ini adalah salah satu kebiasaan jelek saya; membeli, menimbun buku dan baru membacanya bertahun-tahun kemudian xD

Saya tertarik dengan tema feminisme yang diangkat saat membaca deskripsi dari sampul buku ini, secara saya mengambil konsentrasi ilmu hubungan internasional di bangku kuliah. Pengungkapan bahwa buku ini sempat menggemparkan negara-negara di kawasan Timur Tengah juga membuat saya penasaran untuk membaca lebih lanjut.

Dari segi tema cerita, saya sangat menyukai buku ini, karena penulis berani mempertaruhkan keamanannya sendiri demi memaparkan apa yang terjadi dan mencoba mencetuskan revolusi pemikiran baru di negara tersebut. Mulai dari pandangan pada saat itu bahwa seorang perempuan harus menikah sebelum berumur dua puluh tahun. Hal ini yang menurut saya berkontribusi kepada keputusan singkat untuk menikah yang dibuat Qamrah dan ia sesali dikemudian hari, dan pandangan bahwa masyarakat harus ikut campur dalam setiap hubungan yang dibina para pasangan.

Meskipun tema yang diangkat sangat menarik, tetapi menurut saya cerita ini tidak bisa disebut sebagai sebuah novel, jika dilihat dari format yang dibuat penulis. Seperti yang telah disebutkan diatas, buku ini adalah kumpulan surat-surat elektronik yang dikirim penulis ke berbagai alamat email. Hal ini mengakibatkan gaya penyampaian cerita menjadi sedikit aneh.

Banyak terdapat diksi yang digunakan secara tidak tepat oleh penerjemah, yang membuat saya kadang-kadang mengerutkan kening selama membaca. Karena ini adalah buku terjemahan dari bahasa Arab, penerjemah berusaha menyesuaikan istilah-istilah yang ada ke dalam bahasa Indonesia. Tetapi menurut saya, tidak segala hal harus disesuaikan, seperti misalnya nama-nama karakter. Dalam versi orisinil, nama asli keempat karakter adalah Gamrah, Michelle, Sadeem dan Lamees. Lebih baik jika dituliskan sebagaimana adanya. Coba bayangkan jika penerjemah Harry Potter menyesuaikan nama sang penyihir muda menjadi "Heri Potter"? Saya tidak bisa membayangkannya o_o

Ada satu hal yang membuat saya kecewa kepada penerbit Ufuk Publishing House. Beberapa halaman dalam buku hilang (dari halaman 49 sampai halaman 64), sehingga ada beberapa cerita yang saya tidak mengerti. Padahal menurut saya, halaman-halaman yang hilang tersebut sangat esensial dalam membantu saya mengerti cerita secara kesuluruhan. Penerbit memang mencantumkan dibagian belakang buku bagi para pembaca untuk menghubungi mereka jika ada halaman hilang dan akan menggantinya dengan yang baru. Tetapi saya telah menghubungi mereka beberapa kali dan tidak ada jawaban. Website resmi yang tertulis dibuku pun telah tidak aktif. Jadi saya sarankan jika Anda ingin membeli buku ini, minta pihak toko buku untuk membuka segel dan mengecek kelengkapan halaman buku agar proses membaca Anda nanti tidak terganggu :)

Oh ya, satu lagi, judul asli dari buku ini sebenarnya adalah Girls of Riyadh, tanpa ada 'The' didepannya. Jika penerjemah tidak ingin menyesuaikan judul ke dalam bahasa Indonesia, ia seharusnya tidak menambahi determiner tersebut. Secara keseluruhan, buku ini layak untuk dibaca bagi mereka yang tertarik dengan budaya di Arab Saudi.





Tentang penulis:
Rajaa Al Sanea lahir dan besar di Riyadh, Saudi Arabia. Kini usianya 33 tahun. Dia lulus dari King Saud University dan menyandang gelar Dokter Gigi. Ketertarikannya pada dunia membaca dan menulis mendorongnya untuk membukukan pengalaman nyata teman-teman perempuannya di Riyadh. The Girls of Riyadh adalah karya perdananya dan langsung membuat namanya menjadi buah bibir diberbagai forum internet di dunia.